Pak Ustadz nyata-nyata lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada sukses akhirat. Di dalam Al-Qur’an Allah tidak pernah menyuruh kita untuk berlomba mengejar dunia. Berkompetisi merebut keberhasilan di dunia apakah itu dalam hal kekayaan, popularitas, kekuasaan dan lain sebagainya tidaklah Allah perintahkan.
Seperti Firman Allah dalam Al-Baqarah (2:197), 'Dan ambillah bekal, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.' Jadi, perbanyaklah amal sholeh sebagai bekal utama yang akan menemani kita di perjalanan panjang menuju kehidupan yang kekal. Dalam setiap tawa dan tangis, janganlah kita terlalu larut dalam kenikmatan dunia yang fana.
Wallahu a’lam. REPUBLIKA.CO.ID, Kehidupan di dunia ini sebenarnya adalah kehidupan menuju akhirat. Ia adalah jembatan yang mesti dilalui oleh setiap manusia sebelum menempuh alam akhirat. Bahasa sederhananya, kehidupan dunia adalah medan persediaan dan persiapan untuk menuju kehidupan akhirat yang kekal sepanjang zaman.
a. Terlalu cinta dunia; b. Tidak bisa memahami arti hidup bermasyarakat; c. Tidak mengimani qada dan qadar Allah Swt atas nasib dirinya, sesuai dengan kadar usahanya; d. Tidak menyadari harta hanyalah titipan Allah SWT; e. Tidak sadar menjadi hamba Allah SWT, melainkan sebagai budak dunia (harta); f. Lupa dengan akhirat. Bahaya dari Sifat Serakah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan ini, bahwa dunia seperti air yang menempel di jari yang dicelupkan ke dalam lautan, sedangkan akhirat adalah ibarat lautan yang sangat luas. Dunia ini sedikit dan fana, sedangkan akhirat penuh dengan kenikmatan dan kekal abadi. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd.
kenikmatan dunia dibanding akhirat